Turunin View-nya Dikit Dong !
Entah apa yang membuatku saat itu menghentikan langkah kaki mengayuh sepeda dan tak bisa mengalihkan pandanganku padanya. Padahal sebenarnya itu bukan kali pertama aku melihat hal seperti itu. Tapi kali ini pikiranku mulai terbang dan penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang aku coba jawab sendiri.
Berapa umur nenek itu? kenapa dengan usia setua itu ia masih berjualan? Menjajakan dagangan seadanya itu, cukupkah untuk kebutuhan hidupnya? Adakah yang membeli, disaat semakin banyaknya gedung gedung megah supermarket yang menjual hal yang sama?”
Pikiranku melayang dan terbayang ke berbagai hal. Salah satunya aku teringat nenekku, aku bersyukur beliau dapat melewatkan masa senjanya dengan lebih tenang dan nyaman di tengah keluarga kami saat ini.
Tiba tiba akupun teringat oleh ucapan seorang pengusaha yang aku dengar di Youtube. Elang Gumilang ia pernah berkata “Kita harus belajar dari 10 orang kaya dan 10 orang miskin yang kita kenal”
Dan baru hari itulah, aku baru benar benar mengerti apa yang dia maksud.
Ia juga ya sampai ada yang bilang “Hati Hati Jangan terlalu sering liat ke atas, tar kesandung” mungkin bisa juga disambungin kesini. Jadi kita jangan selalu melihat sesuatu yang sudah ada di atas kita. Kita juga perlu sesekali melihat ke bawah. Untuk menyadari jika kitapun sudah cukup berada di atas. Melihat ke atas memberikan kita inspirasi untuk terus melaju. Melihat kebawah mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Jadi Sesekali “Turunin View-nya dikit dong !”
Ya, kita bisa saja dan bahkan mungkin selalu terinspirasi dan termotivasi oleh kesuksesan seseorang. Tapi yang sering kita lihat adalah keadaan ketika ia sudah berada di atas. Kita menjadi terinspirasi dan bermimpi untuk bisa mencapai apa yang telah ia raih. Dan kitapun semakin yakin ketika mereka menyampaikan kata kata yang menggugah semangat dan motivasi kita semua. Membuat kita segera ingin berlari dan mengambil tindakan nyata.
Tapi hal yang barusan aku lihatpun seolah memberikan muatan listrik yang besar yang mengalir kedalam setiap darahku untuk terus semangat mencapai impianku.
Bagaimana tidak, dia yang telah renta dengan usianya yang senja. Harusnya ia menikmati masa tuanya bersama keluarga. Tapi dia masih harus berpikir esok makan apa?
Disaat orang orang seusianya dengan keadaan yang sama, mereka memilih untuk mengemis dan meminta minta. Ialebih memilih untuk berjualan. Mencari uang dengan cara yang lebih baik. Meski belum tentu barangnya terjual atau tidak.
Dengan sisa sisa tenaganya ia tetap memiliki mental yang kuat dan berjiwa besar. Setiap pagi ia berjualan dengan barang dagangan seadanya dan keuntungan yang tak seberapa. Meski harus tetap memikul beban berat, menghirup udara kotor pinggir jalan, dan menikmati sengat teriknya matahari.
Ia terus berjuang untuk hidupnya, ia tak menyerah dan tak ingin berpangku tangan kepada orang lain. Apalagi hanya sekedar menengadahkan tangan, menampilkan wajah memelas dan lalu meminta. Namun Ia memilih untuk memandang tegar kehidupan dengan menampilkan senyum dan kerja kerasnya.
Dia berusaha sekeras itu, mungkin tak lagi untuk mempersiapkan masa depan yang gemilang untuknya. Namun mungkin saja hanya sekedar untuk memastikan esok hari masih bisa makan.
Kita anak muda, dengan segudang ide gila, tenaga yang masih kuat dan perkasa, kitalah yang memiliki masa depan yang masih panjang dan terbuka. Seharusnya Seribu Kali Lebih Semangat, Sejuta Kali Lebih Berusaha Keras dari Nenek itu. Untuk bisa mandiri, bisa memberi dana apapun dalam meraih apa yang kita cita citakan. S.E.M.A.N.G.A.T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar